Hidup di Jakarta Kian Mahal, Siapa yang Paling Sengsara?

Hidup di Jakarta Kian Mahal, Siapa yang Paling Sengsara?

JAKARTA, KOMPAS.com –  Hidup di Jakarta tak selalu berkelindan dengan harga kebutuhan yang mahal. Meskipun kenaikan harga kebutuhan urung dapat dibendung, masyarakat kota terus menemukan siasat baru untuk tetap hidup, dengan penghasilan yang ada.

Seorang karyawan swasta bernama Yanto (31) misalnya, sudah lebih dari lima tahun mengadu nasib di Jakarta. Ia tetap bertahan di petak idekos dengan mengandalkan pekerjaan yang sama dengan penghasilan sebesar Upah Minimum Regional (UMR).

“Belum pernah naik signifikan sih,” ujar dia kepada Kompas.com.

Ia mengaku sulit untuk mencari pekerjaan baru dengan gaji yang lebih besar, terutama berkaitan dengan banyaknya aturan umur maksimal di lowongan pekerjaan.


Namun demikian, ia tak habis akan dan terus berupaya mengencangkan ikat pinggang untuk dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Apalagi, ia juga mengaku perlu menyisihkan penghasilannya untuk membantu keuangan keluarganya di kampung halaman.

“Yang susah ya nabung sebenarnya, kalau untuk hidup saja cukup,” ucap dia.

Baca juga: Sejauh Mana APBN Melindungi Warga Perkotaan dari Tekanan Biaya Hidup

Gaya Hidup Pengaruhi Pola Konsumsi

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah Redjalam menjelaskan, pada dasarnya secara natural, harga bahan pokok memang akan mengalami kenaikan. Dengan demikian, terdapat dorongan untuk adanya kenaikan upah minimum. Hal ini bertujuan untuk mengimbangi kenaikan harga.

“Cuma sekarang ini yang juga berperan adalah gaya hidup. Gaya hidup itu menyebabkan kebutuhan hidup itu naik. Dari yang sebelumnya tidak membutuhkan pulsa, sekarang butuh pulsa. Meskiun inflasi itu relatif rendah, gaya hidup itu mendorong biaya hidup kita menjadi lebih tinggi,” terang dia akhir Desember lalu.

Menurut Piter, masyarakat juga perlu disadarakan bahwa gaya hidup diharapkan tidak membuat masyarakat terjerembab dalam kesulitan keuangan.

“Kita harus hidup sesuai dengan kempapuan kita sebenarnya,” imbuh dia.

Piter bilang, pemerintah perlu juga mengedukasi masyarakat untuk membiasakan hidup sesuai dengan kemampuannya. Ia juga berharap masyarakat tidak hidup dengan didorong oleh memenuhi gaya hidup (life style).

Ia mencontohkan, saat ini banyak kegiatan yang mungkin dapat menjadi sumber pengeluaran baru bagi masyarakat ketika tidak terkontrol, misalnya olahraga padel hingga duduk di cafe.

Baca juga: Tips Menabung Harian agar Konsisten di Tengah Biaya Hidup Naik



source

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *